01 November 2014

Nami Island, Kakek, dan Oktober.

Tiba-tiba ingin bercerita tentang hari yang selalu saya tunggu meski 'menakutkan'. Delapan belas Oktober. Lebih singkatnya, 18-10 ^^

Setiap tanggal ini saya selalu dan harus melakukan perjalanan. Untuk berdialog kecil dengan diri tentang setahun kemarin, ketika usia masih lebih muda dari hari ini dan yang akan dilalui. Untuk berterima kasih pada diri akan usahanya sejauh ini dalam membuat mimpi menjadi nyata, sedikit demi sedikit. Bentuk terima kasih saya terhadap diri saya adalah menikmati indahnya belahan bumi Sang Pencipta. Dan tahun ini, saya manjakan diri dengan mengunjungi Nami Island, Korea Selatan. Alhamdulillah, dikasih kesempatan kesini.

Perjalanan dari kampus saya di sekitar Anam-Seoul menuju Nami Island memakan waktu yang ehem~ panjang. Hampir dua jam. Tapi tentunya tanpa macet ^^ karena naik kereta dilanjut naik kapal ferry~Saya belum mau nulis tentang Nami karena itu akan sangat panjang *hoream* singkatnya, Nami itu KECE! Subhanallah banget ^^

Waktu yang tepat pergi ke Nami adalah musim gugur, dimana bunga cantik berwarna-warni menyelimuti Nami. Cantik. Banget. Daaaan, otomatis semua orang mau menikmati eloknya Nami. Yup, foto. Sooo.. kapal ferry penuh dan kereta penuuuh. Harus ngantri. Disini inti ceritanya:

Pulang dari Nami saya naik kereta. Dan saya harus melewati 22 stasiun untuk kemudian transfer kereta lain (bayangkan sodara-sodara). Tentunya udah ga bisa berharap dapet kursi kosong di kereta. Fiuuuh~ means harus siap berdiri yang bisa dibaca cangkeul. Saya selalu menyiapkan benda-benda yang bisa bikin saya enjoy dan ga bete meski harus berdiri satu jam tiga puluh menit : headphone plus hape dan lagunya dan buku. Kali ini saya bawa buku Filosofi Kopi nya Dewi Lestari. Saya berdiri tepat di dekat pintu kereta, disitu ada tiang kecil bagian dari bangku kereta. Nempel lah saya disana sambil denger lagu dari headphone plus baca Filosofi Kopi. Saya sangat menikmati. Beneran ini mah. Meski yang ngobrol disana sini. Bau alkohol dan lalalala nya. Saya dan dunia saya. Terkadang saya membaca sambil bersuara, hahaha.. ga ada yang ngerti juga saya ngomong apa dan beberapa kali ketawa dan seyum-senyum sendiri. Ada satu bagian dari buku yang saya suka, kata-katanya 'nyebelin' banget hihihi~ judulnya Kunci Hati dan Selagi Kau Lelap. Nah, ini cerita bikin saya senyum dan ketawa kecil. Dan eng ing eng~ ternyata ada yang merhatiin saya, seorang haraboji (kakek) yang berdiri selang satu orang (teman saya). Jadi ga disebelah saya banget. Kakek itu udah berumur. Mungkin 70 something. Dan ia berdiri tepat didepan istrinya yang duduk. Istrinya jutek. Kenapa saya bilang jutek? Haha.. soalnya tertangkap mata saya sedang berantem kata-kata dengan seorang kakek disebelahnya. Trus si suami nenangin dia, semacam bilang "udah sayang, udah." 

Jreenggg~ lalu si kakek dapet tempat duduk di sebelah istrinya. Duduklah si kakek. Ini nih, si kakek yang merhatiin saya. Saya bales senyum aja sambil hormat manggutin kepala sekali. Lanjut saya baca buku, masih sambil senyum. Dan tiba-tiba, si kakek narik tangan saya, megang kuaaaat banget sambil maksa saya duduk di tempatnya, means sebelah istrinya yang jutek itu. Saya mati-matian nolak. Saya bilang "ga usah, kek. saya gak papa. kakek aja yang duduk. silahkan."~ seperti yang sudah saya sebutkan tadi, si kakek narik dan pegang pergelangan tangan saya kuat sambil narik duduk di kursinya. Jreng, si istri marah-marah, kurang lebih "apaan sih kamu. kenapa dia yang duduk? kamu aja duduk disini. cape tau. duduk! duduk!" Sambil melotot dan jangan tanya saya gimana saat itu. TAKUT. Udah gitu volume suara si nenek lumayan bikin orang ngeliatin kita. Huhuhu~ bukan saya nek. Si kakek lagi-lagi nenangin istrinya sambil senyum. Dan saya berkali-kali minta maap sama si nenek. Saya bengong saat itu. Ga tau apa yang ada dipikiran kakek sampe ngasih kursinya ke saya, bukan ke orang lain yang ada disebelahnya. Saya duduk. Lumayan, sekitar 4 atau 5 stasiun. Satu stasiun menuju tempat berhenti saya, si kakek nanya: udah berapa lama di Korea, ngapain, kuliah dimana. Dan, si kakek kaget banget waktu saya kuliah di kampus itu dan program itu. Hahaha.. si kakek senyum sambil nyemangatin saya buat rajin belajar. Si nenek tiba-tiba jadi baik dan nyemangatin juga. Fiuh~ nek. Saya tau nenek cinta sama kakek. Tapi.. pliss.. saya malu diliatin banyak orang. Haha~

Btw, yang ga bisa saya lupain adalah senyum kakek yang tuluuuuuuuuus banget. Mem-protect saya dengan sangat. Kakek, anda keren. Dan tentunya, wajah jutek pasangannya ^^v (piss).

Saya dan teman-teman saya turun. Sepasang sejoli itu pun turun. Di stasiun yang sama. Hihihi~ Senja tak memudarkan romantis dan possessive.

Ini cerita saya. Di hari ulang tahun saya. Ulang tahun kedua saya di Korea. Dan cerita bersama kakek menjadi pembuka cerita di hari baru saya. Terima kasih, kek. Mungkin kalau kakek saya disini juga akan melakukan hal yang sama untuk gadis mungil nan cantik ini. Hahaha, bagian ini (cantik) saya lebay *pengakuan*

Satu kutipan dari buku Dee malam itu:
Bertambahnya usia bukan berarti kita paham segalanya.

Happy birthday, dear. 
Semoga menjadi muslimah yang lebih baik, disayang Allah.  

Cerita 18.10.14
Seoul. 02. 11. 14  00.53 AM

25 Oktober 2014

.....

Langitnya masih kelabu-
Dan hujan mulai turun dari sudut sana,

Sudah kuberi tahu dari awal,
Aku takut kehilangan,
Takut kalau langit tak lagi cerah,
Senja tak lagi memanjakan,
dan terkadang hujan terlalu galak.
 
.............

Seoul. 25.10.14  02.09 AM

24 Oktober 2014

Checklist (?)

D
D - R
Checklist - D - R
Checklist - D - R
Checklist - Checklist
Checklist - Checklist - Checklist
Checklist - Checklist - Checklist - Checklist
... ... ...

*Checklist = a list of things that you must think about, or that you must remember to do (Noun/ Cambridge)
* Checklist = A symbol of existence. Simply, I am here (AdjectiVerb/ De_)

Extra example (?)

Seoul. 24.10.14  10.59 PM

Surabi dan Sekuteng

Bagaimana aku bisa tidur kalau kamu tidur terlalu lama, sudah lama. Lalu siapa yang menjagamu? Karena detik nanti kamu pasti bangun. Dan aku yang harus ada disampingmu. 

Jangan terbaring terlalu lama. Nantinya air mata ini habis. Bangun. Besok pagi kita harus beli surabi. Besok malam kita janji mau makan sekuteng di alun-alun kota. Jadi, kan?


Seoul. 24.10.14  10.44 PM

21 Oktober 2014

Mungkin

Kata-katanya masih ku sulam,
Tapi aku beku lebih cepat,

Kurasa hatiku sudah mati. 


Seoul. 22.10.14  01.19 AM

13 Oktober 2014

Lea.

Ia menjerit. Berteriak. Kemudian menenangkan dirinya sendiri.
Ia menangis. Menutup wajahnya. Mundur menjauh.
Ia bergetar. Memeluk lututnya. Dan masih menangis.

Ayah dari anak perempuan mungil itu mengundangku untuk datang ke rumahnya. Memintaku untuk menemani putrinya. Undangannya sebagai teman; sebagai yang mencintai anak-anak tanpa batas. Ibunya sudah terlalu lelah. Lelahnya sampai mampu menutup telinganya. Anaknya menjerit di luar sana, ibunya tetap bermimpi di ruang tidurnya. Entah bermimpi tentang apa. Mungkin bermimpi tidak mempunyai anak perempuan yang 'sakit'. 

Kamar Lea cukup besar dan terbilang sangat nyaman. Seharusnya. Saya yakin benar setiap dari kalian yang mengunjungi rumah dan kamar Lea tak ingin pulang. Lantai kamarnya bukan dari keramik kebanyakan. Namun lantai sederhana abu-abu. Kami menyebutnya tehel. Dingin. Sejuk. Meski ada satu AC di ruangannya, kurasa AC itu tidak begitu dibutuhkan. Persis dibelakang dan di sebrang tempat tidur Lea ada jendela dengan dua pintu. Ketika kamu membukanya, kamu akan melihat indahnya taman depan rumah Lea dan mendengar gemericik air dari kolam di halaman belakang. Rindang nan cantik.

Saya dan Lea berbincang asyik. Sampai tak terasa nenek Lea memanggil kami untuk makan malam. Oia, selain Ibu dan Ayah Lea, di rumah juga ada nenek Lea. Nenek sekaligus Ibu. Karena Ibunya bukan sepenuhnya Ibu. Kerja, pulang, tidur. Sesekali menenangkan Lea. Sesekali. Itupun kalau terbangun dan rela mengangkat tubuhnya yang letih.

Kami makan. Ayah Lea, Nenek Lea, Aku , dan tentunya Lea. Ibunya sempat duduk bersama kami di ruang makan. Tapi tak lama kemudian masuk ke kamarnya. Sembari menikmati Ikan bakar bikinan Nenek, kami pun membicarakan tentang rencana kami, yakni Lea untuk sementara akan tinggal denganku, di rumahku yang hanya ada Ibu dan adik laki-lakiku. Rencananya selepas makan malam, Lea akan mengemas pakaiannya untuk beberapa hari. Lea terlihat senang akan menghabiskan beberapa malam di rumahku yang jauh lebih kecil daripada rumahnya. 

Aku pamit izin ke kamar mandi. Sebenarnya sudah dari tadi aku menahan untuk buang air kecil. Bingung memotong pembicaraan kami, apalagi Lea yang terlihat begitu antusias. Lea juga yang memutuskan untuk segera pergi malam ini. Tak usah menunggu hingga matahari kembali terbit. Baru beberapa detik aku di kamar mandi, aku mendengar teriakan Lea. Begitu kencang. Begitu kuat. Aku dapat mendengar dengan jelas jeritnya yang penuh dengan ketakutan. Dan tentu saja, ia menangis. Sialnya, aku belum bisa keluar dari kamar mandi. Aku bergegas secepat mungkin. Aku harus keluar menemui Lea. 

Pintu kamar mandi kubuka dan langsung ku berlari ke arah teriakan Lea. Di dapur. Lea menutup matanya, menangis, berteriak, memeluk lutut di pojok ruangan itu. Ayahnya memeluk erat Lea. Begitupun neneknya. Aku mendekati Lea sambil melihat-lihat sekeliling ruangan. Dia, Lea. Hidupnya dari kecil sangat menyedihkan. Kemampuan lebih yang tidak pernah ia minta: Ia bisa melihat makhluk dari dunia sana. Hanya Lea yang bisa melihat makhluk itu. Hanya Lea yang tahu bagaimana menyeramkannya makhluk itu. Hanya Lea yang bisa mendengar apa yang makhluk itu katakan. Hanya Lea. Aku harus membawa Lea pergi sesegera mungkin. Tunggu. Ternyata benar. Lelahnya membuat ia menjadi tuli. Iya, ibunya Lea masih tidur di kamarnya. Aku bisa melihat tubuhnya terbaring di selimuti hangatnya selimut berwarna emas. 
Damn! 

Lea. Ia menenangkan dirinya "Lea gapapa, Yah. Nek, Lea gapapa. Yah, Lea mau pergi." Kemudian ia memberanikan diri berbicara dengan makhluk itu "Pergi. Lea mohon pergi. Lea sudah sholat. Lea ga mau lihat. Jangan ganggu Lea." 

Tuhan. Kasihan Lea. Aku harus apa? 

Ia. Dia Lea. Dua belas tahun. Siswi kelas satu Sekolah Menengah Pertama. 
Ia. Dia Lea. Menangis karena kelebihan yang tidak pernah ia inginkan.
Ia. Dia Lea. Yang mencintai Ayahnya lebih dari apapun.

Tuhan. Apakah aku 'sakit'?

Seoul. 14.10.14  00.59 AM

17 September 2014

Hidup gue!

"Mah, satu jam lagi telepon ya. Bangunin teteh."
"Could you please wake me up at 11.45 PM. I am so tired. Yeah, 15 minutes enough. Thanks."

Hidup gue! Kayak gitu kurang lebih dua tahun yang lalu. Dan akhir-akhir kebiasaan itu muncul lagi. Entah karena gue ga pandai ngatur waktu, entah karena apa. Malah akhir-akhir ini lebih sering tidur di kursi meja belajar. 
Fiuh~ semoga bermanfaat, semoga esok mencintaiku seperti pintaku. 
Teteeeeeeeeeeh~ love you! 

*Sorry, ini beneran curhat. Haha*

Seoul. 18.9.14  01.03 AM

I am about to -- ,-

I am about to cry,-
Daun-daun mengubah diri menjadi kuning lalu nanti beberapa minggu setelahnya akan menjadi coklat. Menyerupai ranting yang dulu berpegangan erat, tapi akhirnya berpisah. Ini pertanda musim gugur itu. Anginnya menuntunmu untuk bergegas mengambil jaket lalu kamu boleh pergi atau diam. 

I am about to cry,-
Hari ini terasa panjang. Seakan matahari tak lelah bertengger di atas sana. Ingin rasanya aku bicara denganmu "Kumohon, hari ini pergilah lebih cepat. Hari ini saja. Besok kau boleh kembali tanpa syarat."

I am about to cry,-
Aku sibuk mencari dia. Bayangku. Ia duduk di sana, di bangku taman yang warna catnya memudar. Sudah lelahkah ia berjalan bersamaku?

I am about to cry,-
Jangan gugur. Jangan tinggal terlalu lama. Dan, jangan lelah. 





Seoul. 18.9.14  00.44 AM

12 September 2014

Hujan dan hujan

Berjalan, 
Terus,
Jangan terlalu lama berhenti,
Meski hujan,
Terkadang seperti ini yang bisa membuatmu tak hujan di tengah hujan.

Hujan baru saja pergi setelah aku berlari di tengahnya. Hujan baru saja menyapa tanpa kata. Hujan baru saja ku maki. 

Hari ini aku menantang hujan dengan api. Namun tak ada sela untuk ku tarung. Benar, terlalu banyak orang yang mengutuk hujan. Mengalirkan sumpah serapahnya lebih cepat dari detik jarum jam di menara gedung tua itu. Sibuk menampar diri, sesungguhnya. Aku.

Bersahabatlah,
Dengan hujan di tengah hujan. 

Seoul. 12.9.14  11.38 PM

10 September 2014

Sekejap

Kamu tahu kenapa salju disini selalu turun di bulan Desember?
Ada butiran halus yang turun dari entah atas sana yang sesekali ditemani rintik hujan, sesekali.

Kamu tahu kenapa matahari selalu tenggelam di waktu yang sama? 
Ia tak pernah berganti arah. Tetap pada sisi yang tak berujung. Terkadang tak perlu ada siluet emasnya untuk menunjukan bahwa ia berubah senja, terkadang.

Tadi siang aku bertemu Ayah. Di mimpi. Di tidur saat matahari terlihat angkuh dengan cahayanya. Tak ada sentuhan, apalagi belaian. Ayah pun tak menggendongku seperti waktu itu. Tak ada kecupan karena aku hening.

Tadi siang aku bertemu Ayah. Di mimpi. Tepat sepuluh menit sebelum aku terbangun karena hujan yang memecah angkuhnya sinar di luar sana. Ya, kurasa sepuluh atau sebelas menit. Tak lama, Yah. Itu tak lama. Sekejap.

Seoul. 11 Sep 14  01.54 AM