'aku tau rasanya'
rasa apa yang kau tau?
'perih itu.'
seberapa perih yang kau rasa?
'sama seperti yang kau rasakan'
perihku? perih yang bagaimana?
'perih yang membuatmu ingin berlari'
ternyata kamu belum tau perih ini. pergilah. Jangan menambah perih.
Seoul 11.17 PM
Namu Cafe
Tampilkan postingan dengan label Poems. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poems. Tampilkan semua postingan
11 Januari 2018
15 Agustus 2017
Kita (telah) melangkah
Mencintai dengan jujur-
bukan sebuah pilihan lagi
tetapi seharusnya menjadi sebuah keharusan.
Mencintai dalam jujur,
bukan karena aku lagi,
tetapi untuk kita, melindungi.
Mencintai seharusnya jujur,
tak karena satu alasan,
tapi sejuta, karena kita (telah) melangkah.
Seoul 15 Aug 17 11.44 PM
bukan sebuah pilihan lagi
tetapi seharusnya menjadi sebuah keharusan.
Mencintai dalam jujur,
bukan karena aku lagi,
tetapi untuk kita, melindungi.
Mencintai seharusnya jujur,
tak karena satu alasan,
tapi sejuta, karena kita (telah) melangkah.
Seoul 15 Aug 17 11.44 PM
08 Agustus 2017
Kepadamu
Kepadamu,
wahai lelaki penunggu senja
apa kabar kamu,
menunggu senja untuk dinikmati mereka,
setelah kamu berletih menyulap panas jadi laras
tidak lelah kah kamu?
Wahai lelaki penunggu senja,
kepadamu,
terima kasih.
Seoul 08.08.17 03.39 PM
wahai lelaki penunggu senja
apa kabar kamu,
menunggu senja untuk dinikmati mereka,
setelah kamu berletih menyulap panas jadi laras
tidak lelah kah kamu?
Wahai lelaki penunggu senja,
kepadamu,
terima kasih.
Seoul 08.08.17 03.39 PM
03 Desember 2016
Melebur
Cinta, buatkan aku puisi cinta
- agar rindu melebur bersama rasamu
hingga sendiri tak lagi mengikatku.
Seoul 3 Dec 2016 10.31 PM
- agar rindu melebur bersama rasamu
hingga sendiri tak lagi mengikatku.
Seoul 3 Dec 2016 10.31 PM
31 Oktober 2016
Dalam- dingin
Apa kabar hati?
Apakah sedang menikmati gugur daun di luar sana?
Atau sedang sibuk menepis dingin?
Atau mungkin sedang berstrategi mencari tempat bersembunyi?
Dari hari ini, mulailah berani mengumpulkan yang berserakan.
Lalu menyimpan rapi dalam scrapbook.
Jangan lupa kemudian berikan pada pemilik hati yang akan datang nanti.
Ini kisahmu, menunggunya.
Dalam musim. Dalam dingin.
Hollys coffee. Dongdaemun.
Seoul 31.10.16
15 Juli 2016
Hilang
Hilang.
Coba hilang sebentar.
Beberapa saat.
Mungkin sampai musim berganti, cukup.
Kemudian kembali dan perhatikan.
Siapa yang benar-benar hadir untukmu.
Dan siapa yang benar-benar ingin hadirmu.
Seoul 15 Juli 2016
Coba hilang sebentar.
Beberapa saat.
Mungkin sampai musim berganti, cukup.
Kemudian kembali dan perhatikan.
Siapa yang benar-benar hadir untukmu.
Dan siapa yang benar-benar ingin hadirmu.
Seoul 15 Juli 2016
Ia, hanya lemah
Ia masih melayang
Tertiup angin musim panas
Tak ingin jatuh
Tak ingin pula terhenti di bawah terik
Ia masih melayang
Masih di ayun angin musim panas
Entah kapan ia akan jatuh,
Berharap tersangkut di dahan tinggi tak berterik
Menikmati lukisan Tuhan,
Karena sesungguhnya ia baik,
hanya lemah.
Seoul 15 Juli 2016
Tertiup angin musim panas
Tak ingin jatuh
Tak ingin pula terhenti di bawah terik
Ia masih melayang
Masih di ayun angin musim panas
Entah kapan ia akan jatuh,
Berharap tersangkut di dahan tinggi tak berterik
Menikmati lukisan Tuhan,
Karena sesungguhnya ia baik,
hanya lemah.
Seoul 15 Juli 2016
25 Maret 2016
Hujan
Mari kita bermain hujan lagi.
Pakai payung yang sama-
Agar semua memori yang lalu terangkai kembali.
Tapi kali ini kita harus mengabadikannya lebih lama.
Tak perlu jemput aku,
Kita bertemu saja di tempat yang sama,
Seperti waktu itu- agar semua cerita lalu terpilin kembali,
Tentang aku yang lugu.
Mari kita bermain hujan lagi,
Ku tendang pohon itu dan kamu harus berada di bawahnya,
Biarkan aku yang menang dan tertawa,
Lalu kamu pura-pura sebal sambil mengejarku,
Kali ini kamu boleh mencubit pipiku-
Mari kita bermain hujan lagi,
Tak usah pedulikan orang yang sedari tadi memperhatikan kita-
Apalagi pedulikan baju basah.
Biar aku yang menginjak genangan air itu-
Kamu harus janji, biarkan aku yang menang hingga bajumu sedikit basah.
Kali ini kamu boleh membelaiku gemas.
Aku ingin bermain hujan dan membiarkan lara terbasuh air hujan-
hingga hilang dan hanyut di gorong-gorong.
Dan kolam itu tak lagi kering.
Seoul 25 Maret 2016 06.02 PM
Pakai payung yang sama-
Agar semua memori yang lalu terangkai kembali.
Tapi kali ini kita harus mengabadikannya lebih lama.
Tak perlu jemput aku,
Kita bertemu saja di tempat yang sama,
Seperti waktu itu- agar semua cerita lalu terpilin kembali,
Tentang aku yang lugu.
Mari kita bermain hujan lagi,
Ku tendang pohon itu dan kamu harus berada di bawahnya,
Biarkan aku yang menang dan tertawa,
Lalu kamu pura-pura sebal sambil mengejarku,
Kali ini kamu boleh mencubit pipiku-
Mari kita bermain hujan lagi,
Tak usah pedulikan orang yang sedari tadi memperhatikan kita-
Apalagi pedulikan baju basah.
Biar aku yang menginjak genangan air itu-
Kamu harus janji, biarkan aku yang menang hingga bajumu sedikit basah.
Kali ini kamu boleh membelaiku gemas.
Aku ingin bermain hujan dan membiarkan lara terbasuh air hujan-
hingga hilang dan hanyut di gorong-gorong.
Dan kolam itu tak lagi kering.
Seoul 25 Maret 2016 06.02 PM
29 Februari 2016
Tak ingin sendiri
Jangan bikin aku menangis lagi.
Seperti aku dulu.
Jangan bikin hati ini berteriak.
Karena aku tak mau sendiri.
Jangan bikin cerita menjadi kusut.
Karena aku ingin cerita ini berakhir dengan senyum.
Jangan buat aku merasa sendiri, seperti dulu.
Jangan.
Seoul 28 Feb 2016 04.32 PM
Seperti aku dulu.
Jangan bikin hati ini berteriak.
Karena aku tak mau sendiri.
Jangan bikin cerita menjadi kusut.
Karena aku ingin cerita ini berakhir dengan senyum.
Jangan buat aku merasa sendiri, seperti dulu.
Jangan.
Seoul 28 Feb 2016 04.32 PM
15 Februari 2016
: pada dia
Tuhan,
Rinduku benar-benar sudah meletup-letup,
: pada dia,
laki-laki yang Kau pilih untuk melindungiku.
: pada dia,
yang tak bisa aku berbakti penuh saat ini.
Seoul 15 Feb 21016
Rinduku benar-benar sudah meletup-letup,
: pada dia,
laki-laki yang Kau pilih untuk melindungiku.
: pada dia,
yang tak bisa aku berbakti penuh saat ini.
Seoul 15 Feb 21016
20 Januari 2016
Kembalilah hangat
Aku ingin menari-nari,
di hamparan rumput hijau,
di bawah langit biru.
Aku ingin bernyanyi dengan nadaku,
dimana aku bebas mengubah lirik,
dan memainkan instrumen apapun.
Aku rindu itu.
Mari menciptanya malam ini.
Sampai besok ketika mata terbuka, matahari kembali hangat.
Seoul 20 Jan 2016 08.15 PM
di hamparan rumput hijau,
di bawah langit biru.
Aku ingin bernyanyi dengan nadaku,
dimana aku bebas mengubah lirik,
dan memainkan instrumen apapun.
Aku rindu itu.
Mari menciptanya malam ini.
Sampai besok ketika mata terbuka, matahari kembali hangat.
Seoul 20 Jan 2016 08.15 PM
17 Januari 2016
Berakhir, begitu.
Rasa itu tak bisa ku lipat dan ku susun rapi,
bagaimanapun kau mengajariku,
membuat garis dan membuka laci,
semua akan kembali berhamburan.
Tangga itu tak akan pernah habis,
bagaimanapun aku berusaha berlari melangkah,-
dengan cepat atau lambat,
semua akan berakhir,
begitu.
Seoul 17 Jan 2016 07.04 PM
bagaimanapun kau mengajariku,
membuat garis dan membuka laci,
semua akan kembali berhamburan.
Tangga itu tak akan pernah habis,
bagaimanapun aku berusaha berlari melangkah,-
dengan cepat atau lambat,
semua akan berakhir,
begitu.
Seoul 17 Jan 2016 07.04 PM
26 Desember 2015
Aku (tau ini) Rindu
Apa,
Apakah engkau tau bahwa rindu ini semakin berat setiap harinya?
Apakah engkau tau kapan aku boleh bertemu?
Seoul 27 Des 2015 01.53 AM
Apakah engkau tau bahwa rindu ini semakin berat setiap harinya?
Apakah engkau tau kapan aku boleh bertemu?
Seoul 27 Des 2015 01.53 AM
Biarkan aku tidur
Aku menemukanmu dalam tidur
Aku tak ingin bangun.
Siapapun, biarkan aku tidur.
Seoul 27 Des 2015 01.44 AM
Aku tak ingin bangun.
Siapapun, biarkan aku tidur.
Seoul 27 Des 2015 01.44 AM
20 November 2015
Ini- menyesakan
Masih banyak impian yang harus ku kejar,
Terdengar serakah-
Tapi ini begitu menentukan.
Masih banyak poin-poin yang belum tercapai,
Terdengar lelet-
Tapi ini begitu memendam, dalam.
Masih banyak yang menanti,
Terdengar penuh desakan-
Tapi memang benar,
ini - menyesakan.
Seoul 20 Nov 2015 08.00 PM
12 November 2015
Ayah.
Bagaimana aku harus mendeskripsikan tentang Ayah?
Ceritanya begitu lampau. Kenangannya tak bisa kusimpan baik.
Ajari aku bercerita tentang Ayah.
Cerita yang selalu anak perempuan banggakan di setiap detiknya. Ajari aku memilin kata-kata indah tentang Ayah..
Beritahu aku bagaimana melukis wajah Ayah.
Wajah yang teduh yang bisa mereka kecup di setiap detiknya. Beritahu aku darimana harus menuangkan tinta hingga jadi sebuah lukisan teduh wajahnya. Wajah Ayah.
Ceritakan padaku hangatnya pelukan Ayah.
Mereka bilang tubuh tegapnya selalu ada untuk melindungi mereka dan menghapuskan lelah mereka, anak perempuan Ayah. Seperti apa hangatnya? Ceritakan padaku. Sehangat mentari di musim dingin kah? Atau sehangat kopi yang baru diseduh?
Tunjukan padaku bagaimana Ayah menuntun anak perempuannya.
Tangan kuatnya tak pernah berhenti menggenggam jemari mungil anak perempuannya. Itu cerita mereka. Itu yang kulihat di banyak gambar. Tunjukan padaku seberapa erat genggaman tangan Ayah yang berhasil menuntunmu hingga mengukir senyum di wajahmu.
Beritahu aku bagaimana Ayah menyeka air matamu.
Beritahu aku bagaimana Ayah memanjakanmu.
Beritahu aku bagaimana Ayah mengkhawatirkanmu.
Beritahu aku bagaimana Ayah menghiburmu.
Beritahu aku bagaimana Ayah memelukmu dan menciummu.
Beritahu aku.
Selamat hari Ayah.
Mari kita bertemu dalam mimpi dulu, Yah.
Seoul 13 Nov 2015 01.30 AM
13 Oktober 2015
Balada Rindu
Izinkan aku merobek satu lembar kalendar,
Satu lembar saja,
Untuk memperpendek waktu,
Untuk mempercepat pertemuan.
Atau izinkan aku memindahkan bulan November,
Menempatkannya cantik setelah Januari,
Untuk melepas rasa yang tertahan,
-lama, sejak malam itu.
Atau izinkan aku mendapat hadiah,
Sebuah hadiah yang menerbangkan aku,
Untuk memeluknya,
-kemudian, membisikannya kata
: aku rindu padamu.
Tapi rinduku menuntunku,
mengajarkanku,
bahwa cinta-Nya lebih besar.
Maka Tuhan,
aku tak akan merobek kalendar,
tak akan pula memindahkan November,
dan tak apa kalau hadiah itu tidak hari ini.
Maka Tuhan,
Terima Kasih- Engkau mencipta balada rindu yang sangat indah.
Seoul. 13 Oktober 2015 05.19 PM
Satu lembar saja,
Untuk memperpendek waktu,
Untuk mempercepat pertemuan.
Atau izinkan aku memindahkan bulan November,
Menempatkannya cantik setelah Januari,
Untuk melepas rasa yang tertahan,
-lama, sejak malam itu.
Atau izinkan aku mendapat hadiah,
Sebuah hadiah yang menerbangkan aku,
Untuk memeluknya,
-kemudian, membisikannya kata
: aku rindu padamu.
Tapi rinduku menuntunku,
mengajarkanku,
bahwa cinta-Nya lebih besar.
Maka Tuhan,
aku tak akan merobek kalendar,
tak akan pula memindahkan November,
dan tak apa kalau hadiah itu tidak hari ini.
Maka Tuhan,
Terima Kasih- Engkau mencipta balada rindu yang sangat indah.
Seoul. 13 Oktober 2015 05.19 PM
Rinduku tertahan musim
Langit cerah berawan,
Udara cukup panas,
Dan angin hanya sesekali datang,
Iya- ketika aku memutuskan untuk melangkah.
Langit sesekali mulai redup,
Kemudian terang lagi dan kembali redup,
Jaket sedikit tebal menjadi syarat untuk berteman dengan udara dan angin,
Iya- ketika aku memutuskan untuk menunggu.
Langit cerah,
Biru dan putihnya bermain centil,
Angin turut membuat cerita,
Daun gugur menambah romantisme,
-walau hanya separuh.
Iya- ketika aku mulai tak sabar merajut benang rindu yang mulai menjuntai
Iya- ketika aku mulai tak sanggup memasukan rasa rindu ke dalam toples-toples kosong.
Adalah nyata,
Adalah benar,
Rinduku harus melewati musim,
Rinduku tertahan musim,
Tapi juga benar,- rinduku tak akan pernah gugur.
Seoul. 13 Oktober 2015 5.06 PM
25 Juni 2015
02 Juni 2015
Jejak
Apa jadinya kalau aku pergi,
meninggalkan jejak panjang tak berujung?
Seoul 2 June 2015 09.47AM
meninggalkan jejak panjang tak berujung?
Seoul 2 June 2015 09.47AM
Langganan:
Postingan (Atom)