27 Mei 2016

Apa kabar?

Untuk kalian yang membaca tulisan ini, apa kabar?
Kabarku? 
Kabarku sedang tidak baik. Tapi mencoba untuk baik-baik saja.

Maaf untuk yang sudah kirim email dan belum dibalas. Nanti saya balas, inshaa Allah ^^

Selamat malam.

Seoul 27 Mei 16   11.09 PM

13 Mei 2016

Bangun!

Sudah empat hari ini kepala sakit lagi.
Mata lelah dan berat.

Oh dear saya, bangun donk!


Seoul 13 Mei 2016   08.47 PM

11 Mei 2016

Hampir Menyerah

Delapan bulan sudah bergelut dengan hubungan jarak jauh.
Dan di bulan ke delapan ini, saya hampir membuka tas-tas besar dan memasukan semua barang-barang. Ingin pergi. Ingin tinggal bersamamu. Ingin menyerah dengan semua ini. 

Tapi hidup ini, bukan melulu tentang saya. 
Maka saya biarkan tas-tas itu tetap terbuka. Menunggu saatnya untuk saya angkut pergi menujumu. 

Seoul 11 Mei 2016  09.53 AM

Hidup. Hidupkanlah.

Selamat Pagi

Perasaan sedang tidak menentu akhir-akhir ini. Efeknya, saya enek ngeliat kampus. Benar-benar enek. Sampai-sampai, saya ga mau masuk kawasan kampus. Perasaan yang aneh. Rasa yang tidak bisa di tolak. Rasa yang seperti ini yang bikin saya ingin segera pergi dari Korea. Allah mencipta semua ini untuk saya lewati. Saya tau itu. Tapi mengubah semua yang sedang saya jalani itu, sulit. Menata kembali. Perlu waktu. Banyak waktu, saya kira. 

Hidup. Maka hidupkanlah saya, kembali, dengan semangat yang dulu pernah tumpah ruah. Hidup. Jangan matikan langkah ini. 


Seoul 11 Mei 2016  09.48 AM

25 Maret 2016

Spring 2016

Hangat mentari siang ditemani sapuan sejuk angin kali ini membawa kakiku melangkah ke halaman utama kampus. Ada banyak blok rerumputan yang mulai tumbuh, menghijau. Tidak sedikit dari mereka yang membuat lingkaran bersama teman-temannya dan mulai berbincang asyik. Tak hanya gelak tawa yang menceriakan siang itu, tapi juga nyayian dan tarian dari kumpulan mahasiswa. Mahasiswa baru, sepertinya. Merayakan sebuah keberhasilan bisa menjadi mahasiswa di kampus ini. Ya, yang mereka lakukan itu semacam ritual mengungkap rasa bahagia.

Saya, siang itu menaruh pelan-pelan tas seberat kurang lebih tiga kilogram yang saya gendong sejak pagi tadi. Tas ransel hitam yang sudah robek dibagian tali pundak sebelah kanan itu saya letakan di rumput dan saya jadikan alas bantal untuk sekejap menutup mata. Berbaring sambil mengucap terima kasih. Terima kasih untuk hangat; untuk dingin; untuk kebahagiaan; untuk masalah; untuk ujian; dan untuk jawaban.

Spring datang dan saya ingin membiarkan matahari memercikan sinarnya di wajah ini. Saya- tentu saja menikmatinya. Tak hanya itu, saya tak keberatan ia masuk ke dalam setiap sela rajutan benang yang membalut tubuh ini. 

Saya tahu ini sesaat- karena semua akan berganti. Semua bercerita- tidak hanya aku, tapi juga matahari. Tidak hanya kamu, tapi juga daun yang tak tersentuh. Semua bercerita.

- feeling so emotional.
- bersambung.


Seoul 25 Maret 2016  06.25 PM




Belajar di Luar Negeri Part 1

Belajar di luar negeri itu belajar menjadi individu yang kuat dan ga cengeng. Heu, walau rasa ingin teriak kencang kalau lagi benar-benar sulit dan mentok, seperti saat ini - ketika menulis tulisan ini. Kenapa? Iya~ susah ya susah sendiri. Sedekat apapun teman, tak akan membantu. Mereka cuma bisa bilang "semangat! fighting!" Jangan harap ada duduk bersama dan berdiskusi. Itu cuma ada di kelas. Setelah jam kelas selesai, semua berlari dan sibuk dengan agenda masing-masing. Tugas kelompok? Bagi tugas- kerjakan masing-masing dan kumpulkan di satu orang kemudian di satukan. Selesai. 

Oh Allah Yang Maha Baik, saya rasa kesulitan saat ini. Bantu saya *tearing*

Seoul 25 Maret 2016  06.12 PM

Hujan

Mari kita bermain hujan lagi.
Pakai payung yang sama-
Agar semua memori yang lalu terangkai kembali.
Tapi kali ini kita harus mengabadikannya lebih lama.

Tak perlu jemput aku,
Kita bertemu saja di tempat yang sama,
Seperti waktu itu- agar semua cerita lalu terpilin kembali,
Tentang aku yang lugu.

Mari kita bermain hujan lagi,
Ku tendang pohon itu dan kamu harus berada di bawahnya,
Biarkan aku yang menang dan tertawa,
Lalu kamu pura-pura sebal sambil mengejarku,
Kali ini kamu boleh mencubit pipiku-

Mari kita bermain hujan lagi,
Tak usah pedulikan orang yang sedari tadi memperhatikan kita-
Apalagi pedulikan baju basah.
Biar aku yang menginjak genangan air itu-
Kamu harus janji, biarkan aku yang menang hingga bajumu sedikit basah.
Kali ini kamu boleh membelaiku gemas.

Aku ingin bermain hujan dan membiarkan lara terbasuh air hujan-
hingga hilang dan hanyut di gorong-gorong.
Dan kolam itu tak lagi kering.


Seoul  25 Maret 2016  06.02 PM

14 Maret 2016

Kangen Suami. Titik.

Seoul 14 March 2016  09.34 PM

29 Februari 2016

Karena tak mampu berbagi cerita sedih kepada siapapun, 
karena itulah aku menulis. 

Kukira semuanya akan berjalan seperti rancangan yang sudah berusaha aku buat. Mencoba detail, membagi waktu dan membagi ingin. Setiap poin nya berusaha kujabarkan dengan cara yang ku mampu. Atau mungkin mampu ku tak terpahami. Tapi memang begitulah, kita tak pernah tahu. Dan yang tersulit adalah untuk menahan diri agar tak berteriak. Dan yang masih berat adalah mengajar diri untuk tetap tersenyum. Mencoba bertingkah bahwa semua baik-baik saja; bahwa aku wonder woman; bahwa air mata tidak dicipta untukku. 

Tuhan, tapi aku menangis lagi. 


Seoul 29 Feb 2016   04.44 PM

Tak ingin sendiri

Jangan bikin aku menangis lagi.
Seperti aku dulu.

Jangan bikin hati ini berteriak.
Karena aku tak mau sendiri.

Jangan bikin cerita menjadi kusut.
Karena aku ingin cerita ini berakhir dengan senyum.

Jangan buat aku merasa sendiri, seperti dulu.
Jangan.


Seoul 28 Feb 2016  04.32 PM