20 April 2018

Tanya-tanya KGSP

Dear para pembaca blog saya yang budiman,
Baik yang sengaja mampir, ataupun yang tidak sengaja mampir ^^
Dimohon untuk tidak bertanya KGSP di tulisan yang bukan tentang KGSP ya.
Maaf, kurang pas aja rasanya.

Jadi, kalau mau bertanya KGSP silahkan di tulisan tentang KGSP.
Tulisannya ada di tahun 2015 bulan Feb kalau tidak salah.
Beberapa hari lalu saya masih bales-balesin pertanyaan yang memang penting.
Pertanyaan yang jawabannya bisa di googling ga saya jawab ya ^^ biar pada usaha cari jawaban hehehe ^^

Atau silahkan ke email saya klo mau bertanya KGSP.
"Emailnya apa kak?"
Silahkan berusaha mencari ^^ Good Luck!

Terima kasih.

15 April 2018

Kisah Calon Jurnalis

Udah lama banget ga nulis disini, masih ada yang sering mampir kah? hihih..
Kemaren saya melihat seorang teman saya mengenakan seragam kerjanya, ia seorang jurnalis. Terlihat keren dengan seragamnya. Dan beberapa hari yang lalu saya ngobrol dengan teman tentang rencana ia kedepan, yang akan menjadi rencana kami bersama jika Allah mengizinkan.

Semua cerita itu mengingatkan saya pada masa lalu. Tentang cita-cita saya yang ingin menjadi jurnalis. Demi mendapatkan itu, saya mulai menulis dan ikut sekolah jurnalistik di Bandung. Alhamdulillah sampai lulus, di saat beberapa teman berguguran. 

Singkat cerita luluslah saya dari bangku perkuliahan jenjang S1. Pulang kampung ke Cirebon dan memulai lembaran baru, meninggalkan cerita duka di Bandung dulu *tsaaah* Perjalanan saya mulai dari melamar menjadi jurnalis di salah satu kantor media paling besar dan terkenal di Cirebon. Kalau boleh pede, hasil test dan wawancara saya meninggalkan kesan sangat baik untuk mereka. Saya tau dari perlakuan mereka dan kata-kata mereka saat itu. Iya, mereka adalah para 'pejabat' di media itu. Tibalah waktunya magang: diberi tugas mencari berita, wawancara sana-sini. Seru! Bertemu dengan banyak orang baru yang tidak dikenal dengan ceritanya. Paling sedih kalau bertemu mereka yang curhat tentang keluh kesahnya mencari nafkah. Paling seru kalau harus jalan-jalan cari info tongkrongan kece. Paling heboh waktu wawancara komunitas, kayak komunitas KPOP. Dan paling miris kalo harus nongkrong di tempat yang sering terjadi kecelakaan demi sebuah berita dan hasil jepretan yang layak. Ingat benar ketika bertugas berdua dengan teman di pengkolan Grage Mall, tempat dimana orang naik motor sering terpeleset karena pasir yang berserakan akibat pembangunan salah satu gedung. Disitu saya diminta untuk tidak menolong (teman saya yang menolong) dan saya yang bertugas mengambil gambar. Ketika rasa kemanusiaan harus disembunyikan. Satu lagi, yang paling Astaghfirullah adalah ketika menerima amplop selepas wawancara orang hebat di Cirebon. 

Satu, dua, dan tiga hari masih seru. Hari keempat saya mulai mempertanyakan, berapa upah yang saya terima dengan keluar seharian, beli batu batre buat kamera saya sendiri (demi berita yang aduhai), makan siang, ongkos parkir, belum lagi begadang nulis berita. Lalu saya bertanya sama teman-teman yang juga statusnya magang. Satupun tidak ada yang tau. Aduhai kesal rasanya saat itu. Langsung saya menemui HRD. Tidak ada kejelasan, lalu saya kembalikan surat sakti jurnalis saya (yang waktu itu mereka kasih. Iya, dibilang sakti karena kamu bakal bebas ngapain aja. Bebas dari tilang dll wkwkwk). Hebohlah. Seorang anak magang mengembalikan surat sakti dan menuntut upah. Hahaha.. mungkin itu headline yang tepat klo harus diterbitkan di koran. Saya pulang. Mogok cari berita. Dan hari itu juga, pemimpin redaksi menelpon saya yang sedang nyelonjor di rumah. Saya disuruh datang besok ke kantor dan akan ada rapat dengan HRD. 


Eng-Ing-Eng... rapat HRD dimulai. Semua anak magang yang jumlahnya sekitar 10 orang (atau kurang, saya lupa) dikumpulkan. Masuklah orang HRD dan kata-kata yang saya ingat adalah ... "selama ... tahun, baru kali ini ada anak magang berani nanya upah." (Saya lupa berapa angka tahunnya, tapi yang pasti lamaa banget sumpah haha..) Saya udah siapin 'senjata' saat itu, berupa pasal-pasal hak pekerja termasuk anak magang. Di akhir rapat, si ibu HRD nan menyebalkan itu bilang, siapa yang mau lanjut silahkan, siapa yang mau berhenti silahkan angkat tangan. Dan saya satu-satunya orang yang angkat tangan pertanda mundur dari pekerjaan yang menguras tenaga dan duit saya. Teman-tema kaget. Rasanya saya dulu mau bilang ke mereka "please jangan bego. mau aja keliling-keliling kota buat cari berita tanpa upah."


Setelah itu, teman-teman kembali melanjutkan perjuangan cari berita. Saya dipanggil PemRed. Intinya mereka ingin saya bertahan dengan cara menunjukan selembar kertas gaji karyawan disana yang entah sudah berapa lama mereka bekerja. Saya uraikan, saya mencari berita dengan kamera saya sendiri dengan batre yang saya beli sendiri seharga 19.500, makan siang saya 10.000, bensin motor saya 10.000 dan uang parkir. Kata-kata yang pedas yang saya keluarkan saat itu adalah "saya cari penghasilan, bukan cari pengalaman." *tsaaah* Iya, dulu saya udah ancang-ancang banget, waktu kuliah saya kerja ini-itu buat cari pengalaman, dibayar dibawah rata-rata gpp, tapi setelah lulus saya cari uang karena pengalaman sudah saya kumpulkan. 

Keluar dari media itu, saya masuk media lain yang baru memulai ingin terbang. Begitu masuk tahap wawancara saya memperkenalkan diri saya. Dan si pewawancara langsung menyambut "oh, kamu yang nuntut upah itu ya." Hahaha... ketawa saya. Beliau bilang, karena sama-sama bekerja di media berita saya cepat menyebar di kalangan mereka. 


Oia, lupa saya ceritakan.. waktu rapat HRD itu. Si ibu HRD bawa contoh koran (ketauan deh). Ibu bilang klo berita kecil kayak di kolom ini di bayar 4.000, klo di kolom ini 6.000, dan headline 8.000 (seingat saya seperti itu, pokoknya dibawah 15.000). Klo berita ga naik? ya udah lah yaaa wwkwkw..
Mohon ampun saya saat itu sama Allah karena ngambil amplop wawancara yang dibagi dua dengan teman. Saya niatkan ini untuk batre, bensin dan uang makan. Ampun Ya Allah. Dulu uang amplopnya 300.000 dan teman saya wanti-wanti "jangan bilang siapa-siapa. Cuma kita berdua yang tau."


Itulah, sepenggal kisah penuh dilema ketika menjadi calon jurnalis. Ada yang dicinta tapi ada yang dibenci. Tentunya tidak semua perusahaan atau kantor media kebijakannya seperti ini ya. Dan tidak semua nasib calon jurnalis seperti saya. But please guys, jangan mau jadi budak. 


Singkat cerita, saya ga jadi kerja di kantor kedua karena memilih untuk melanjutkan kuliah di Jogja. Btw, kantor kedua dulu bayarannya lebih oke wlo masih miris. Iya, 20.000 per hari. Dan yang bikin emejing, setelah beberap bulan saya kuliah - pemred kantor kedua menelpon saya dan meminta selepas lulus saya bekerja disana, atau main-main ke kantor kalau mudik. 


Baiklah. Untuk kalian semua- selamat mencari nafkah halal. (cucian udah mau kelar nih)
Bye! hahaha

Seoul 15.04.18   11.32 AM

11 Januari 2018

Paham (?)

Akhir-akhir ini sedang banyak bertemu orang yang mengajak berdiskusi tentang pernikahan. Kadang ingin mendebat, tapi itu salah. Ada hati yang harus dilindungi, karena setiap kita punya paham. 

Sempat bertanya dengan mereka yang memilih untuk tidak menikah... ada gemas, ada sebal, ada kesal. Tapi begitulah, setiap mereka punya paham yang mereka bilang tak salah.

Entahlah, aku melihatnya sebagai sebuah kelemahan dan ketakutan. Lemah menghadapi nanti, dan takut menghadapi esok.


Seoul 11.33 PM 11.01.18
Namu Cafe

Plak!

Ingin rasanya menghampiri sepasang muda-mudi di ujung sana. Mereka bercumbu tanpa peduli sekeliling. Ini cafe. Dan mereka tepat berada di depanku. Mereka tepat dikelilingi kursi lain yang tidak kosong. 

Bolehkah aku menghampiri mereka? Kemudian berteriak : hentikan! 
"Plak!"
Kemudian aku terbangun. 


Seoul 11.01.18   11.27 PM 
Namu Cafe

Aku tau rasanya

'aku tau rasanya'
rasa apa yang kau tau?
'perih itu.'
seberapa perih yang kau rasa?
'sama seperti yang kau rasakan'
perihku? perih yang bagaimana?
'perih yang membuatmu ingin berlari'
ternyata kamu belum tau perih ini. pergilah. Jangan menambah perih.


Seoul 11.17 PM
Namu Cafe

10 Desember 2017

LDR Halal

Tidak sengaja melihat berita sekilas tentang pernikahan dua insan yang masih sangat muda di sebuah media sosial. Kemudian menjadi viral karena keduanya memang cukup terkenal karena hal-hal positif. Mereka adalah inspirasi bagi banyak anak muda (saat berita ini heboh). Lebih lanjut juga membaca bahwa mereka menikah dengan proses taaruf dan ternyata telah memutuskan untuk menjalani Long Distance Relationship. Oh- dalam hati saya berkata, selamat datang di dunia LDR halal, dek! Nantinya, akan banyak tantangan dan cobaan dan ujian - yang tentunya harus dijalani berdua. Hati boleh bersama, tapi wujud itu- terpisah. Disini... semua akan dimulai. 

Saya si pelaku LDR halal atau ada yang menyebutnya rumah tangga online ^^ Saya percaya pasti akan ada cobaan nantinya, tapi percaya diri saya besar bahwa semuanya tak akan sulit karena saya dan suami memang terbiasa sendiri sebelumnya. Lagipula, belum banyak kenangan bersama sebelum menikah, sehingga yang saya pikir tak akan banyak yang dirindukan dan kehilangan. Lima hari saja kami bersama setelah pernikahan, kemudian berpisah karena masing-masing harus menyelesaikan studi, sama seperti kedua adik ini. Bedanya, kondisi finansial kami tidak membuat kami mudah bertemu sesuka hati. Tiket pesawat, visa, dll - kadang, pernah, dan selalu menjadi kendala ^^ hingga saat ini.

Setiap orang punya alasan masing-masing untuk menikah. Setiap orang punya alasan masing-masing ketika memutuskan untuk LDR setelah menikah. Dan setiap keputusan yang diambil selalu diikuti konsekuensinya. Tak sama. Oleh karenanya, hanya kita yang bisa menyelesaikan. Bukan orang lain. 

Lalu menyayangkan ketika beberepa bulan setelah menikah menyebar kabar yang tak di inginkan. Saya bukan orang yang kepo sama urusan orang. Heu- saya juga punya banyak kepentingan yang harus dipikirkan daripada ngurusin rumah tangga orang lain. Tapi entahlah, untuk yang satu ini saya tiba-tiba ingin menulis, karena saya pelaku LDR halal. Sedikit banyak tau masalah apa yang akan muncul.

Kunci sehatnya LDR adalah komunikasi dan kepercayaan. Ketika sebuah hubungan normal membutuhkan ini, maka LDR membutuhkannya lebih dan lebih. Dosisnya harus lebih dari hubungan normal (bukan LDR). Ujian terbesar LDR adalah rindu, meski kamu belum membuat banyak cerita dengan pasanganmu. Rindu akan muncul tanpa alasan. Menusuk. 

Dua puluh tujuh bulan sudah kami menjalankan LDR. Berat, sangat berat. Tapi Alhamdulillah -  Atas Izin Allah, kami bertahan, Insya Allah terus bertahan, karena kami ingin bersama disini dan disana, Jannah (Aamiin). Sebenarnya semua masih bisa normal dalam beberapa hal. Bicarakan, Diskusikan. Buang jauh ego. Karena sesungguhnya LDR kita yang pilih. Itu yang selalu kami ingat. 

Rumah tangga itu tentang aku dan dia. Maka, cerita apapun biar disimpan berdua - heu, meski saya akui kadang jari ini gatel buat ngetik dan upload di medsos untuk sekedar kasih tau : im fine or im not fine. Tapi seriusan, tak perlulah orang dan media turut serta.

Baiklah, kepada para pejuang LDR halal... Ini tidak mudah, tapi kamu yang terpilih. Semoga LDR segera berlalu yaa~ 


Seoul 10.12.17   10.30 PM




18 November 2017

Kembali ...

Aku ingin kembali,
Pada senyum manis yang terurai itu,

Aku ingin berguru,
Pada mata teduh itu,

Aku ingin bersandar,
Pada pundak yang tak pernah lelah itu,

Padamu, aku ingin kembali.


Seoul 18.11.17    08.38 AM

Mari bersyukur, cantik

Tuhan mengingatkanku dengan status yang pernah kubuat di social media,
Ternyata ini jalan yang kupilih dari beberapa tahun lalu,
Ternyata ini jalan yang kupinta sampai tak kenal lelah,

Lalu sesal apa kemaren?
Keluh apa yang sudah kubuat? Padahal ini asaku dulu.

Status-status yang kubuat di social mediaku mengingatkanku pada Tuhan,
Tuhan sudah memberi semua,
Tuhan sudah membiarkanku mencapai semua,

Mungkin sekarang Tuhan sedang bertanya,
Kenapa ada air mata setelah semua Aku beri?

Mari bersyukur, cantik.

Seoul 18 Nov 2017

22 Agustus 2017

Mamah..

Kali ini saya mau cerita tentang mamah saya yang super galak tapi keren banget!
Galak nya mamah kayak gimana mau tau? Hihihi... ga galak-galak banget sih, cuma tegas aja.
Salah satu contohnya, waktu kecil saya ga dibolehin banget baca komik. Dan setiap abis magrib suasana rumah hening, TV dimatiin dan waktunya anak-anak belajar. Pacaran? No! Hahaha.. aduuhh, ketauan ga pernah pacaran, tapi saya bangga (yang ini mau sombong). 

Dulu yaa.. pernah banget pinjem komik punya temen trus sampe saya umpetin di bawah kasur dan tumpukan baju biar ga ketauan hahha... Dan jaman kuliaaah, ada yang nanya nope mau pedekate gitu, hahaha... saya kasi aja nope mamah, kena dehh! (guling-guling).

Eniwey.. saya ga mau cerita tentang dulu-dulu kok.
Tapi mau cerita yang kemaren-kemaren ini.

Mamah yaaa.. seriusan.. kapanpun, dimanapun, bagaimanapun anaknya, dan sampai kapanpun. 
Tak tergantikan. 
Huhu T-T... efek abis nangis-nangisan sama mamah. Meski udah nikah, mamah tempatku kembali. Tempat curhat segala-gala. Iya, karena beliau tau banget saya dari jaman beibi, dari awal banget saya melihat dunia. 
Oh mamah.. rasanya pengen meluk. Sabaaar banget. Kuaaaat banget. Dan ngajarin saya untuk kuat dan selalu kuat. Mamah selalu bilang, lakukan apa aja yang bikin kamu bahagia. Apapun. (Ga usah dibahas tentang batas-batasannya karena itu sudah mendarah daging, bukan lagi culture).

I love you, mamah. 

Satu hari saya pernah bilang begini dengan seseorang:
Jangan bandingkan ibuku dengan ibumu atau ibumu dengan ibu yang lain. Karena mereka punya cara yang berbeda. Tapi saya tau, cinta mereka sama, sama-sama besar dan luas.


Seoul 22 August 2017   07.50 PM

15 Agustus 2017

Mimpi Besar

Mari berbagi cerita, apa mimpi terbesarmu saat ini? Terlepas dari kembali kepada Sang Pencipta dengan khusnul khotimah ya- karena saya yakin itu mimpi semua orang.

Tentang mimpi mu itu, apa yang sudah kamu lakukan untuk membuatnya jadi benar-benar nyata- menjadi milikmu! Lalu, pernahkan kamu bertanya, "kenapa Aku?"

Apapun mimpi besarmu, kejar!
Karena kebahagiaan harus diperjuangkan!
Setuju?

Hahaha.. efek lagi analisis tapi ga ada ide adalah begini. Tiga postingan sudah dalam waktu yang amat sangat dekat.

Seoul 16 Aug 17  12.30 AM