11 Januari 2018

Paham (?)

Akhir-akhir ini sedang banyak bertemu orang yang mengajak berdiskusi tentang pernikahan. Kadang ingin mendebat, tapi itu salah. Ada hati yang harus dilindungi, karena setiap kita punya paham. 

Sempat bertanya dengan mereka yang memilih untuk tidak menikah... ada gemas, ada sebal, ada kesal. Tapi begitulah, setiap mereka punya paham yang mereka bilang tak salah.

Entahlah, aku melihatnya sebagai sebuah kelemahan dan ketakutan. Lemah menghadapi nanti, dan takut menghadapi esok.


Seoul 11.33 PM 11.01.18
Namu Cafe

Plak!

Ingin rasanya menghampiri sepasang muda-mudi di ujung sana. Mereka bercumbu tanpa peduli sekeliling. Ini cafe. Dan mereka tepat berada di depanku. Mereka tepat dikelilingi kursi lain yang tidak kosong. 

Bolehkah aku menghampiri mereka? Kemudian berteriak : hentikan! 
"Plak!"
Kemudian aku terbangun. 


Seoul 11.01.18   11.27 PM 
Namu Cafe

Aku tau rasanya

'aku tau rasanya'
rasa apa yang kau tau?
'perih itu.'
seberapa perih yang kau rasa?
'sama seperti yang kau rasakan'
perihku? perih yang bagaimana?
'perih yang membuatmu ingin berlari'
ternyata kamu belum tau perih ini. pergilah. Jangan menambah perih.


Seoul 11.17 PM
Namu Cafe

10 Desember 2017

LDR Halal

Tidak sengaja melihat berita sekilas tentang pernikahan dua insan yang masih sangat muda di sebuah media sosial. Kemudian menjadi viral karena keduanya memang cukup terkenal karena hal-hal positif. Mereka adalah inspirasi bagi banyak anak muda (saat berita ini heboh). Lebih lanjut juga membaca bahwa mereka menikah dengan proses taaruf dan ternyata telah memutuskan untuk menjalani Long Distance Relationship. Oh- dalam hati saya berkata, selamat datang di dunia LDR halal, dek! Nantinya, akan banyak tantangan dan cobaan dan ujian - yang tentunya harus dijalani berdua. Hati boleh bersama, tapi wujud itu- terpisah. Disini... semua akan dimulai. 

Saya si pelaku LDR halal atau ada yang menyebutnya rumah tangga online ^^ Saya percaya pasti akan ada cobaan nantinya, tapi percaya diri saya besar bahwa semuanya tak akan sulit karena saya dan suami memang terbiasa sendiri sebelumnya. Lagipula, belum banyak kenangan bersama sebelum menikah, sehingga yang saya pikir tak akan banyak yang dirindukan dan kehilangan. Lima hari saja kami bersama setelah pernikahan, kemudian berpisah karena masing-masing harus menyelesaikan studi, sama seperti kedua adik ini. Bedanya, kondisi finansial kami tidak membuat kami mudah bertemu sesuka hati. Tiket pesawat, visa, dll - kadang, pernah, dan selalu menjadi kendala ^^ hingga saat ini.

Setiap orang punya alasan masing-masing untuk menikah. Setiap orang punya alasan masing-masing ketika memutuskan untuk LDR setelah menikah. Dan setiap keputusan yang diambil selalu diikuti konsekuensinya. Tak sama. Oleh karenanya, hanya kita yang bisa menyelesaikan. Bukan orang lain. 

Lalu menyayangkan ketika beberepa bulan setelah menikah menyebar kabar yang tak di inginkan. Saya bukan orang yang kepo sama urusan orang. Heu- saya juga punya banyak kepentingan yang harus dipikirkan daripada ngurusin rumah tangga orang lain. Tapi entahlah, untuk yang satu ini saya tiba-tiba ingin menulis, karena saya pelaku LDR halal. Sedikit banyak tau masalah apa yang akan muncul.

Kunci sehatnya LDR adalah komunikasi dan kepercayaan. Ketika sebuah hubungan normal membutuhkan ini, maka LDR membutuhkannya lebih dan lebih. Dosisnya harus lebih dari hubungan normal (bukan LDR). Ujian terbesar LDR adalah rindu, meski kamu belum membuat banyak cerita dengan pasanganmu. Rindu akan muncul tanpa alasan. Menusuk. 

Dua puluh tujuh bulan sudah kami menjalankan LDR. Berat, sangat berat. Tapi Alhamdulillah -  Atas Izin Allah, kami bertahan, Insya Allah terus bertahan, karena kami ingin bersama disini dan disana, Jannah (Aamiin). Sebenarnya semua masih bisa normal dalam beberapa hal. Bicarakan, Diskusikan. Buang jauh ego. Karena sesungguhnya LDR kita yang pilih. Itu yang selalu kami ingat. 

Rumah tangga itu tentang aku dan dia. Maka, cerita apapun biar disimpan berdua - heu, meski saya akui kadang jari ini gatel buat ngetik dan upload di medsos untuk sekedar kasih tau : im fine or im not fine. Tapi seriusan, tak perlulah orang dan media turut serta.

Baiklah, kepada para pejuang LDR halal... Ini tidak mudah, tapi kamu yang terpilih. Semoga LDR segera berlalu yaa~ 


Seoul 10.12.17   10.30 PM




18 November 2017

Kembali ...

Aku ingin kembali,
Pada senyum manis yang terurai itu,

Aku ingin berguru,
Pada mata teduh itu,

Aku ingin bersandar,
Pada pundak yang tak pernah lelah itu,

Padamu, aku ingin kembali.


Seoul 18.11.17    08.38 AM

Mari bersyukur, cantik

Tuhan mengingatkanku dengan status yang pernah kubuat di social media,
Ternyata ini jalan yang kupilih dari beberapa tahun lalu,
Ternyata ini jalan yang kupinta sampai tak kenal lelah,

Lalu sesal apa kemaren?
Keluh apa yang sudah kubuat? Padahal ini asaku dulu.

Status-status yang kubuat di social mediaku mengingatkanku pada Tuhan,
Tuhan sudah memberi semua,
Tuhan sudah membiarkanku mencapai semua,

Mungkin sekarang Tuhan sedang bertanya,
Kenapa ada air mata setelah semua Aku beri?

Mari bersyukur, cantik.

Seoul 18 Nov 2017

22 Agustus 2017

Mamah..

Kali ini saya mau cerita tentang mamah saya yang super galak tapi keren banget!
Galak nya mamah kayak gimana mau tau? Hihihi... ga galak-galak banget sih, cuma tegas aja.
Salah satu contohnya, waktu kecil saya ga dibolehin banget baca komik. Dan setiap abis magrib suasana rumah hening, TV dimatiin dan waktunya anak-anak belajar. Pacaran? No! Hahaha.. aduuhh, ketauan ga pernah pacaran, tapi saya bangga (yang ini mau sombong). 

Dulu yaa.. pernah banget pinjem komik punya temen trus sampe saya umpetin di bawah kasur dan tumpukan baju biar ga ketauan hahha... Dan jaman kuliaaah, ada yang nanya nope mau pedekate gitu, hahaha... saya kasi aja nope mamah, kena dehh! (guling-guling).

Eniwey.. saya ga mau cerita tentang dulu-dulu kok.
Tapi mau cerita yang kemaren-kemaren ini.

Mamah yaaa.. seriusan.. kapanpun, dimanapun, bagaimanapun anaknya, dan sampai kapanpun. 
Tak tergantikan. 
Huhu T-T... efek abis nangis-nangisan sama mamah. Meski udah nikah, mamah tempatku kembali. Tempat curhat segala-gala. Iya, karena beliau tau banget saya dari jaman beibi, dari awal banget saya melihat dunia. 
Oh mamah.. rasanya pengen meluk. Sabaaar banget. Kuaaaat banget. Dan ngajarin saya untuk kuat dan selalu kuat. Mamah selalu bilang, lakukan apa aja yang bikin kamu bahagia. Apapun. (Ga usah dibahas tentang batas-batasannya karena itu sudah mendarah daging, bukan lagi culture).

I love you, mamah. 

Satu hari saya pernah bilang begini dengan seseorang:
Jangan bandingkan ibuku dengan ibumu atau ibumu dengan ibu yang lain. Karena mereka punya cara yang berbeda. Tapi saya tau, cinta mereka sama, sama-sama besar dan luas.


Seoul 22 August 2017   07.50 PM

15 Agustus 2017

Mimpi Besar

Mari berbagi cerita, apa mimpi terbesarmu saat ini? Terlepas dari kembali kepada Sang Pencipta dengan khusnul khotimah ya- karena saya yakin itu mimpi semua orang.

Tentang mimpi mu itu, apa yang sudah kamu lakukan untuk membuatnya jadi benar-benar nyata- menjadi milikmu! Lalu, pernahkan kamu bertanya, "kenapa Aku?"

Apapun mimpi besarmu, kejar!
Karena kebahagiaan harus diperjuangkan!
Setuju?

Hahaha.. efek lagi analisis tapi ga ada ide adalah begini. Tiga postingan sudah dalam waktu yang amat sangat dekat.

Seoul 16 Aug 17  12.30 AM

Sejenis Dilan

Kangen baca buku tapi yang ringan, sejenis buku Dilan laah.. ada yang punya rekomendasi buku seru buat dibaca? Yang bisa bikin ketawa atau senyum-senyum sendiri gituuu... mau donks! Kebetulan ada yang mau ke Korea (jadi bisa nitip! wkwkw) ... ^o^

Btw, ngomongin Dilan- Omg! Katanya Dilan lagi proses dibikin film ya, aw! Ga sabaaaar.. itu mah yaaa pe-er pisan buat pemeran Dilan. Bakal di demo kalau actingnya ga sesuai dengan yang digambarkan dibuku. Hahaha.. kayaknya saya bakal ikutan demo! (Sebagai penggila Dilan).

Kemaren ada temen yang baru baca buku Dilan, langsung jatuh cinta aja dia sama Dilan hihihi... saya menebarkan virus Dilan ^^ 

Ayo-ayooo... yang baca postingan saya yang ini. Plis rekomendasi buku nya ^^

Hatur nuhun ^^

Seoul 16 Aug 17  12.21 AM

Kita (telah) melangkah

Mencintai dengan jujur-
bukan sebuah pilihan lagi
tetapi seharusnya menjadi sebuah keharusan.

Mencintai dalam jujur,
bukan karena aku lagi,
tetapi untuk kita, melindungi.

Mencintai seharusnya jujur,
tak karena satu alasan, 
tapi sejuta, karena kita (telah) melangkah. 


Seoul 15 Aug 17   11.44 PM