Aigooo,, sudah macam konsultan saja saya ini. Akhir-akhir ini buanyaaaak buanget yang curhat. Seneng banget bisa dipercaya sama mereka jadi tempat curhat wlopun bingung juga karna tentu saja harus bisa kasi solusi yang terbaik. Yep, PACAR! Obrolan cewe tentang cowo dan cowo tentang cewenya selalu jadi topik yang hangat, ga peduli ujan turun tiap hari, tapi teteuuup aja ini mah hangat (Lho? ^^).
Wew, gambaran pacaran itu pasti jalan berdua, makan bareng, ini itu bareng, serasa dunia milik berdua gitu deh (yuuu,, mari). Udah ga aneh lagi klo diusia remaja kayak kita ini (hihi… maap ah, masih berasa remaja ^^v) obrolan sehari-hari nya pasti berbumbu cowo. Aigooo… getek nian. Agak-agak gimanaaaa gitu sih pas ngedengerin temen2 show off or explain more tentang boyfriendnya hohoho… yang gantenglah, pinterlah, tajirlah, pengertianlah, care tingkat dewa, adeeeuuuh.. udah berasa ketemu pangeran berkuda putih yang dateng dari negeri awan di atas sana (hahaha.. lebay mode on). Tapiii, beda lagi ceritanya klo tuh cowo selingkuh, ga pengertian, dan pelit, hmm… air matalah yang ada, belom lagi jadi ga napsu makan, dkk nya. Aigooo… itulah pacaran. Eits, belom selesai, gimana yang ga pacaran. Hari gini jomblo? Ya ampyuun, udah langsung di cap norak aja tuh, ga gaul lah, ga laku lah, iiihh… serem. Ga punya pacar? Gambarannya itu malam minggu sendiri di kamer, bengong, nonton pilem ga jelas, parahnya klo udah diiringi lagu Marshanda “malam ini kusendiri” atau “menangis semalam” nya Audi, aigoooo… komplitlah sudah, piss ^^v. Itu dia yang namanya pacaran.
Pacaran itu ga boleh. Mendekati zina. Nah, yang ini beda cerita lagi. Sedikit cerita ya, hmm… pake subjek “saya” aja biar lebih ngeh (hahaha… bilang aja mau curhat non ^^). Yep, pertama nyemplung di dunia ikhwan dan akhwat agak shocking juga. Iyalah da baru tau. Saya menemui dunia yang really-really religious. Singkatnya, harus ada jarak antara cewe dan cowo. Yup, I do toooootally agree about this. Ya iyalah, berabe klo ga ada jarak atau batasan antara cewe dan cowo, tapiii bukan berarti ga boleh bersosialisasi sama cowo kan? Gimana pun kita butuh bersosialisasi, lagipula salah satu ikhtiar dapet imam hidup yg ok kan melalui sosialisasi, ini ga hanya berlaku buat cewe, cowo juga. Another sharing, Hmm… pernah ya, klo ngobrolin seputar cowo disini serasa berdosaaaa banget, serasa jadi penjahat gitu, trus diceramahin panjaaaaang (maap, ini mah beneran pengalaman~ambil pelajaran aja), belum lagi sampai ada yang dikucilkan, disudutkan, dipojokkan karna ngobrolin atau gara2 pacaran. Ya ampun, ga musti gini juga kali ya.
Yep, dari dua cerita diatas intinya adalah saya mau cerita gimana itu LINGKUNGAN. See, dari kedua diatas, disimpulkan bahwa salah satu factor yang mempengaruhi pacaran atau engga adalah LINGKUNGAN. Guys, nyadar ga sih klo masing2 dr kita pasti punya lingkungan yang berbeda. Saya si ngerasa gitu, saya hidup di dunia yang meng-OK-kan pacaran dan tidak meng-OK-kan pacaran. Kamu sendiri gimana non? Saya sih lebih condong cari yang aman dan melindungi, ikut yang terbaik menurut agama saya, tapiiii… bukan berarti saya orang yang suka mengucilkan atau menyudutkan orang-orang yang memilih untuk pacaran. Hey, setiap orang punya hak untuk menentukan jalan hidupnya, setuju? Hihihi… Yang musti digarisbawahi disini adalah, lingkungan itu sangat kuat, bisa membentuk pola pikir kita, atau bahkan mengubah pola pikir yang sudah ada sebelumnya. Well, seperti apa yang teman saya bilang, jadikan setiap apapun yang kamu temui sebagai guru. So, pacaran atau engga, menurut kamu?
10 Desember 10 10.38 PM
Siapa lelakimu?
Ada. Tapi tak ada.
Jangan jadikan titik, munculkanlah koma terlebih dahulu. Setelahnya kamu paham kapan harus berhenti.
Saya lelah.
Saya tahu. Mari berbicara.
Ia ada, sesuai dengan yang saya harapkan. Saya cinta. Tapi berubah ketika perubahan harus diambil. Saya cape.
Menangislah.
Tidak. Saya cape. Tidak lemah.
Cinta datang diawal, setelahnya hilang, dan yang ada hanya tanggung jawab. Pahami.
Merasa bodoh harus bersedih dan membiarkan otak ini berpikir pada satu hal absurd.
Entah kapan, itu terjadi pada semua. Jangan menolak.
Tapi saya tak ingin menangis.
Makanlah yang banyak. Mau minum apa?
Saya ingin malam ini berhenti. Saya ingin tenang seperti saat ini. Bertukar pikiran dan makan. Dan saya tidak sendiri (lagi).
04 Dec 10 11.34 PM
Kami pun berbicara malam itu. Sebuah diskusi singkat namun ...
Kenapa?
Ah, entahlah. Tak enak hati sepertinya.
Ceritakan.
Lembutkanlah sedikit kepalamu.
Jangan hiraukan. Tak ada yang salah dengan dirimu.
Menyakiti.
Tidak.
Lalu bagaimana caranya?
Semua butuh proses. Waktu tak pendek untuk itu. Jalani. Jangan lari.
Saya butuh dewasa dan semua menjadi lembut. Tak ada egois.
Kamu masih muda. Setiap permasalahan yang datang itu seperti air. Masalah yang datang semakin banyak akan membuat batu itu berlubang. Hadapi setiap masalah itu.
Tapi saya,
Kamu bisa. Ayo kita makan ice cream.
Ingin lebih lama lagi bersamamu. Tak ingin salam perpisahan. Hard to say good bye to you. Ingin memelukumu erat dan menumpahkan semuanya. Tapi saya harus pergi. Saya mengaggumimu. Saya menemukan Ayah di setiap gerakmu.
04 Dec 10 11.20 PM
Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan ketika harus menjawab semua pilihan. Ada hal yang harus dibuang jauh, ditunda, dan diwujudkan.
Pak, seandainya semua bisa dapat diusahakan untuk diwujudkan, tak akan seperih ini pergi jauh dari kharismamu.
It's hard to say good bye to someone we love, right?
Sir, Im gonna miss your affection; wild thinking; and fun caprice.
God, Let me in, please!
01 Dec 10 06.53 PM
Im too afraid to see you,
Im too weak to hold you,
and Im, who's sitting next to your heart,
Im, who never know what you did,
just too fear to decide.
01 Dec 10 06.43 PM
Tuhan, sepertinya aku sedang jatuh cinta
Tuhan,
lalu?
10 Nov 10 00.02 AM
I knock your heart
: And tell the truth
I touch your soul
: And feel at the full
I hold your hand
: And get your warmth
Then I will say, hmm… I think I found you ^^
09 Nov 10 11.54 PM
Saya masih berpikir tentang keikhwanan seorang ikhwan. Terus terang saja, kata ikhwan baru saja saya ketahui sekitar lima tahun belakangan ini. Konsep yang saya pahami sejauh ini adalah sebuah kata yang artinya laki-laki tapi memiliki esensi yang berbeda dengan laki-laki biasa. Dimulai dari penampilan fisik yang sedikit berbeda, ada yang melihat dari pakaian, dan penampilan wajahnya, yang berjenggot tipis dan sedikit seperti tanda hitam di dahinya. Saya sedikit tertarik memperhatikannya tapi ah, saya tidak peduli penampilan luar, yang harus dilihat adalah hatinya. Tapi, siapalah yang tahu urusan hati. Baiklah, ini hanya pemahanan kecil saya saja yang masih dihiasi tanda tanya.
Salah satu hal yang paling utama dan sering diperbincangkan adalah bagaimana seorang ikhwan menjaga hubungannya dengan akhwat atau perempuan; jaga pandangan mata; kontak fisik; tutur kata; dan hati. Lagi-lagi saya bilang masalah hati saya tak bisa berucap banyak. Tapi inikah gambaran ikhwan itu?
Baik, saya gambarkan satu kondisi. Benarkah jika seorang ikhwan lebih memilih untuk meninggalkan seorang akhwat atau perempuan (yang sudah ia kenal baik) di malam gulita untuk menyusuri jalan pulangnya sendiri dimana siapapun tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di tengah jalan? Inikah keikhwanan seorang ikhwan? Membiarkan seorang perempuan berjalan sendiri di gelap malam hanya demi alasan “menjaga” tadi. Sementara kalau dilihat kondisinya: malam, sendiri, perempuan, dan hanya ada ikhwan itu yang memungkinkan untuk mengantar. Tunggu, kalau saya pribadi boleh berkata mungkin perempuan ini bisa memainkan peran gendernya yang ingin dianggap sama dengan laki-laki, Beranilah! Itu kata yang akan saya tanam. Tapi, saya yakin tak semua perempuan mampu menanam kata berani dalam dirinya. Lalu, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan akhwat itu di jalan menuju pulang? Ya, bagaimanapun semua tau, harga mahal seorang perempuan adalah pada keperawanannya (maaf, agak sulit menyusun kalimat ini). Kembali lagi, itukah konsep ikhwan? Setahu saya, Islam sangat memuliakan perempuan, menjaga dan menghormati perempuan, bukan begitu? Saya tahu bahwa perempuan itu "berbahaya" tapi bukan berarti kita bisa atau boleh membahayakannya kan?
Saya kembali berpikir untuk solusi pertanyaan saya. Begini jawaban saya, banyak pilihan:
(a) mengantarkan perempuan itu sampai dipastikan selamat sampai tempat yang ditujunya dengan berjalan disampingnya,
(b) membiarkannya pergi sendiri dengan alasan “menjaga” tadi,
(c) meminta orang tak dikenal, katakanlah mamang ojek atau mamang angkot untuk mengantarnya ke tempat tujuan,
(d) mengantarnya tanpa harus berjalan disampingnya, berjalan di belakangnya sampai tempat yang dituju.
Dan jawaban yang sesuai dengan logika saya adalah (d). Saya rasa memastikan perempuan itu sampai tempat tujuan tanpa harus berjalan disampingnya. Cukup berjalan dibelakangnya, memperhatikannya, dan memastikannya SELAMAT. Saya rasa dengan begini konsep “menjaga” akan terlealisasikan. Menjaga perempuan, menjaga keihwanan seorang ikhwan. Ah, itu mungkin hanya pikiran pendek saya saja.
Lalu, bagaimana menurut anda? Bagaimana seharusnya seorang ikhwan menunjukan keikhwanannya pada situasi seperti diatas?
Lagi, sampai-sampai saya berpikir jauh, sangat jauh, mencoba menggambarkan sebuah kondisi. Apa jadinya kalau ada seorang akhwat yang mengalami kecelakaan atau tabrakan atau dijahati di samping seorang ikhwan persis? Meninggalkannya begitu sajakah dengan alasan “menjaga”? saya pikir itu terlalu egois. Ah, saya masih bertanya seputar ini. Maaf kepada para ikhwan, saya tidak ada maksud apa-apa dengan artikel ini. Ini murni sebuah pertanyaan.
21 Octo 10 09.21 PM
dan tepat ketika detik datang,
kemudian malam tua kupecahkan,
aku menggigil dingin Tuhan,
ada apa aku ini?
adakah ini aku?
aku ini apa?
dua dasawarsa dan tiga kali dua belas bulan,
adakah aku hidup untuk mereka?
selamat hari lahir dede ^^
18 Oktober 2010 12.48 AM
Kurasa aku dicipta untuk malam.
Layaknya teman dekat; kami berbagi kisah saat siang menarikku lelah.
Padanya aku manja; pun bersandar pasrah.
Dengannya aku mengulang cerita ketika matahari menerkam dan dengannya aku lenyapkan kisah-kisah siang itu.
Malam, meski tak tahu apa rupamu tapi hangatmu penuh.
07 Octo 10 00.48 AM