20 Maret 2015

Saat Tua Nanti

Saat tua nanti. 
Aku ingin duduk di teras depan rumah. Di kursi anyaman yang dilapisi bantalan empuk. 
Saat tua nanti. 
Aku ingin duduk di teras rumah. Aku tak ingin duduk di kursi goyang. Aku hanya ingin duduk di sampingmu. 
Saat tua nanti. 
Aku ingin duduk di teras depan rumah. Sembari menikmati teh manis hangat dengan potongan lemon. Dan sepiring kue putu. 
Saat tua nanti. 
Aku ingin duduk di teras depan rumah. Bersamamu melihat hijaunya rumput. Mendengar cuitan burung yang hinggap dan pergi di pagar bambu rumah kita. 
Saat tua nanti. 
Aku ingin duduk di teras rumah. Aku tak butuh alat sulam dan kacamata. Aku hanya butuh bahumu. Ingin manja dan bersandar. 
Saat tua nanti.
Aku ingin duduk di teras rumah. Aku tak ingin tanganmu memegang koran dan larut. Aku ingin tanganmu memegang rambutku yang mulai memutih dan membelainya.
Saat tua nanti.
Aku ingin duduk di teras rumah. Aku ingin melepas senja dan menyambut fajar bersamamu. Sambil bercerita bagaimana kita bertemu dulu. 

Saat tua nanti. Aku ingin duduk di teras depan rumah. Di kursi anyaman yang dilapisi bantalan empuk. Aku tak ingin duduk di kursi goyang. Aku hanya ingin duduk di sampingmu. Sembari menikmati teh manis hangat dengan potongan lemon. Dan sepiring kue putu. Bersamamu melihat hijaunya rumput. Mendengar cuitan burung yang hinggap dan pergi di pagar bambu rumah kita. Aku tak butuh alat sulam dan kacamata. Aku hanya butuh bahumu. Ingin manja dan bersandar. Aku tak ingin tanganmu memegang koran dan larut. Aku ingin tanganmu memegang rambutku yang mulai memutih dan membelainya. 
Saat tua nanti. Aku ingin melepas senja dan menyambut fajar bersamamu. Sambil bercerita bagaimana kita bertemu dulu. 

Seoul 20 Maret 2015  04.40 PM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar